Tips Untuk Berinvestasi di Fintech

August 26, 2022 Fintech No Comments

Sistem penanaman modal atau uang yang menggunakan teknologi finansial dan berbasis digital dikenal dengan sebutan investasi fintech. Seperti yang kamu ketahui bila siapapun dapat menginvestasikan uang yang dimilikinya dalam bentuk saham reksadana, emas, deposito sampai dengan P2P lending. Di mana kesemuanya itu dapat kamu lakukan melalui online atau digital.

Seluruh proses investasi Dilakukan secara digital serta dikontrol oleh pihak-pihak yang memang terlibat hanya dengan menggunakan internet atau smartphone. Contoh dari peer to peer lending adalah perantara atau pihak pengelola cukup membuat sebuah platform berbasis digital yang nantinya akan menjadi tempat untuk mempertemukan investor dengan peminjam dana.

Tentu ada keuntungan tersendiri ketika menggunakan sistem ini yaitu pihak pendana memperoleh return lebih besar dari modal atau dana yang mereka pinjamkan, peminjam pun juga bisa memperoleh keuntungan karena proses serta syarat pengajuan jauh lebih cepat dan mudah.

Tips untuk berinvestasi fintech

Untuk memaksimalkan manfaat fintech bagi investor, ada beberapa tips penting yang harus kamu ketahui sebelum memutuskan untuk berinvestasi di fintech. Jika tips-tips ini dijalankan dengan benar, ada kemungkinan risiko akan berkurang atau bahkan hilang sama sekali. Beberapa hal yang perlu diperhatikan saat berinvestasi di fintech adalah sebagai berikut.

  • Distribusikan investasi

Salah satu upaya yang dapat dilakukan The Mengurangi risiko kerugian yang terjadi saat berinvestasi di fintech merupakan investasi yang ditangguhkan. Misalnya, jika kamu adalah pemberi pinjaman yang ingin berinvestasi.

Harap sertakan dana yang kamu miliki sebagai kreditur atau peminjam karena potensi kerugiannya sangat besar. Sebaiknya sebarkan dana yang kamu miliki di antara beberapa kreditur, sehingga potensi kerugian yang lebih kecil serta potensi keuntungan lebih besar.

  • Hindari penggunaan dana investasi

Memisahkan uang dari tabungan dan uang dari investasi merupakan salah satu upaya untuk mengurangi risiko yang dapat terjadi di sektor fintech. Misalnya, dalam investasi peer-to-peer lending, dana yang diinvestasikan tidak dapat dikembalikan sampai kreditur melunasi atau melunasi pinjamannya.

Oleh karena itu, sangat berbahaya bila pinjaman yang nantinya diberikan berasal dari tabungan. Daripada menggunakan tabungan untuk tujuan lain, lebih baik membuat publikasi tabungan baru yang didedikasikan untuk berinvestasi di fintech.

  • Jangan berpikir untuk bertaruh ketika berinvestasi fintech

Investasi Fintech, yaitu proses menginvestasikan dana untuk melipatgandakan keuntungan, sehingga melakukan investasi seperti perjudian terlalu berisiko. Siapkan semua data yang diperlukan sebelum berinvestasi.

Lakukan investigasi menyeluruh, pelajari wilayah atau pihak yang akan dibiayai. Dengan cara ini kamu bisa lebih aman saat memutuskan melakukan investasi dana di ruang fintech atau dengan kreditur.

  • Harus memiliki keyakinan

Setelah kamu memahami semua risiko yang bisa saja terjadi dan telah mengembangkan strategi untuk mengantisipasinya, hal terakhir yang perlu kamu lakukan adalah meyakinkan diri sendiri. Ini adalah investasi yang jauh lebih baik ketika didorong dengan keyakinan sedemikian rupa sehingga apapun yang terjadi, itu tidak menjadi masalah.

Risiko Investasi Fintech atau P2P Lending

Seperti disebutkan di atas, berinvestasi di sektor tekfin, khususnya pinjaman tekfin, memiliki beberapa risiko yang jika tidak diidentifikasi dengan baik dapat menimbulkan kerugian. Namun di sisi lain, jika risiko dalam dunia investasi diketahui, maka segala strategi yang diperlukan dapat dipersiapkan sejak awal untuk mengantisipasinya.

Berikut adalah beberapa risiko investasi FinTech yang harus dipertimbangkan dan diselidiki:

  • Kualitas pengelola masih terbatas

Salah satu yang menjadi risiko dan harus dihadapi perusahaan fintech, khususnya di bidang P2P lending yang ada di Indonesia, yaitu usia yang relatif masih muda. Baru, sehingga cukup sulit untuk menentukan bagaimana cara untuk mengelola mana yang berkualitas dan mana yang tidak.

Sedangkan posisi manajer sangat penting dalam bidang ini. Manajemen akan menghubungkan calon peminjam dengan calon investor. Alih-alih mendapat untung, kamu bisa merugi besar jika salah memilih penyedia layanan.

  • Investor sepenuhnya menanggung jika kreditur wanprestasi

P2P lending mengharuskan investor untuk bersedia mengambil banyak risiko meskipun kreditur gagal bayar atau bahkan gagal bayar pinjaman. Dalam kondisi ini, investor harus rela kehilangan semua uang yang mereka pinjamkan tanpa kompensasi sepeser pun dari manajer. Ini adalah salah satu perbedaan paling mencolok antara pemberi pinjaman dengan bank.

  • Investor mungkin akan menanggung adanya risiko operasional

Selain itu risiko Untuk menanggung kredit macet oleh kreditur, investor di start-up tekfin juga harus menghadapi risiko operasional manajemen. Risiko pertama adalah manajer yang tidak bertanggung jawab melarikan diri atau menyalahgunakan reksa dana. Risiko kedua, manajer bisa bangkrut. Oleh karena itu, memeriksa kredibilitas dan kinerja manajer adalah langkah pertama yang sangat penting.

  • Investor tidak bisa setengah-setengah menarik investasi

Risiko lain yang perlu diperhatikan secara matang saat berinvestasi di P2P lending adalah dana yang diinvestasikan tidak bisa diambil “setengah-setengah”. Uang hanya dapat dikembalikan kepada investor setelah kreditur melunasi pinjamannya.

Oleh karena itu, ketika memutuskan untuk berinvestasi di sektor ini, dana yang diinvestasikan harus berasal dari dana khusus yang diperuntukkan bagi investasi. Tujuan pinjaman modal. Perkembangan dari investasi fintech belakangan ini memang cukup menjanjikan. 

Dalam beberapa tahun, telah mengalami peningkatan jumlah pendana secara signifikan. Perbaikan dari sistem, teknis, serta regulasi yang akan terus berlanjut tentunya sangat membantu investasi di sektor fintech untuk menjadi lebih baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *