Resiko Pinjaman Online Yang Perlu Kita Ketahui

September 22, 2021 Fintech No Comments

Kita mungkin sudah terbiasa dengan kemudahan pinjaman dana. Misalnya melakukan pinjaman online untuk memulai usaha, suntikan dana, dan lain sebagainya. Namun kita lupa, kemudahan tersebut memiliki beberapa resiko yang bisa membahayakan keuangan kita.

Pinjaman online merupakan kemudahan bagi seseorang dalam memanfaatkan teknologinya untuk melakukan aktivitas perbankan. Melalui Financial Technology (Fintech) konsep pinjaman konvensional yang umumnya dilakukan di bank, diadaptasi dengan mudah melalui fintech lender menggunakan jaringan internet. 

Pinjaman online memang terkesan mudah sekaligus cepat bagi sebagian dari kita, khususnya bagi pelaku bisnis di saat-saat tertentu. Perbedaan yang menonjol dari konsep pinjaman P2P (peer to peer) dengan cash loan/fintech lender adalah P2P mempunyai dua arah, yaitu investor dan lender. Sedangkan cash loan/fintech lender hanya menyalurkan pinjaman tanpa disertai dengan asal modal pinjaman.

Bagi sebagian orang pinjaman online sangat menguntungkan. Apalagi syarat yang diperlukan tidak memberatkan, yaitu cukup bermodal KTP dan formulir pendaftaran online, melalui website atau aplikasi di ponsel. Beberapa aplikasi digital yang telah banyak digunakan untuk melakukan pinjaman online ini antara lain Cash Wagon, Tunai Kita, dan Uang Teman.

Walaupun demikian, mungkin orang lupa, ketika melihat kemungkinan kemudahan dan keuntungan yang Ia dapatkan. Padahal pinjaman online pun juga terdapat resiko yang perlu kita waspadai, agar tidak terlilit hutang bahkan berhubungan dengan debt collector

debt collector

Masuk Blacklist SLIK OJK

Saat melakukan persetujuan mengajukan pinjaman online, pastinya kita diminta untuk menyerahkan beberapa berkas seperti KTP, KK, NPWP, akun internet banking, serta slip gaji bulanan. Walaupun terlihat wajar dan remeh, penyerahan dokumen ini sangat berbahaya bagi kita. 

Karena dokumen yang kita berikan kepada pihak fintech landing ini merupakan data pribadi yang perlu dijaga. Pasalnya penyerahan dokumen ini pun bisa disalahgunakan oleh sebagian pihak untuk mengetahui nama lengkap, alamat rumah, pekerjaan, alamat, hingga nama saudara dan teman kita. 

Sehingga, apabila kita tidak mampu untuk melunasi pinjaman online ini, kita pun harus menerima konsekuensinya. Contohnya data-data yang telah kita serahkan akan diberikan kepada OJK. Akibatnya kita pun bisa masuk daftar hitam layanan pinjaman. Yang paling disayangkan lagi adalah kita pun tidak memiliki harapan lagi untuk meminta bantuan finansial kepada lembaga keuangan Indonesia.

Bunga Yang Semakin Menumpuk

Bukan rahasia lagi, jika orang yang melakukan pinjaman online akan dapat beban bunga bertumpuk, jika tidak melunasi hutang tepat tenggat waktu yang telah ditentukan. Apabila kita tidak melunasi hutang di tanggal yang telah ditentukan, maka akumulasi hutang kita pun semakin menumpuk. Dengan begitu, kita pun jadi kewalahan untuk melunasinya.

Berdasarkan aturan yang telah diberlakukan OJK, bunga dan denda yang ditetapkan seharusnya berada di angka 0,8% per harinya. Lalu, denda keterlambatan maksimal berjumlah 100 persen dari jumlah pokok uang yang dipinjam. 

Dikejar Debt Collector, Sehingga Meresahkan Kehidupan Pribadi

Fintech memang memiliki prosedural ketat, serta teratur untuk menanggulangi masalah peminjam yang lupa akan tanggung jawab membayar hutang. Prosedur penagihan hutang oleh fintech ini pun diatur dalam AFPI (Asosiasi Fintech Pendanaan bersama Indonesia).

Proses penagihan hutang pun diawali dengan pengiriman SMS, e-mail, maupun telepon. Namun, apabila peminjam tidak kunjung membayar, maka tim collector akan menagih hutang dengan cara mengunjungi kediamannya. Hingga menghubungi nomor kontak orang terdekat peminjam. Apabila hal ini berlangsung dalam waktu lama, tentunya ini akan berisiko bagi keluarga dan orang disekitar kita. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *